Tampilkan postingan dengan label Hore-hore. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hore-hore. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Februari 2012

Setelah Solat Bersama sang Bunda, Seragam Panjang Dambaan Yuni Terkabul

Yuni dengan seragam barunya
Suatu hari di Bulan Juni,  aku dan Ririn membagi-bagikan seragam dan alat tulis sekolah yang merupakan bagian dari program Gerrak ( gerakan seragam dan alat tulis sekolah) 2011. Dengan kegiatan ini, kami berusaha ingin menyenangkan adik-adik yang ingin mempunyai seragam dan alat tulis sekolah yang baru, di awal tahun ajaran baru.
Salah satu daerah tempat kami membagi-bagikan seragam adalah daerah Serua Indah, Ciputat. Kami mendatangi rumah adik-adik yang sudah kami data sebelumnya. Kami memberinya pun dengan cara sembunyi-sembunyi karena kami tidak menginginkan adanya suatu kecemburuan dan terlebih lagi jumlah bantuannya juga sangat terbatas.
 "Rin, ada banyak orang yang nongkrong di dekat rumah Ibu Hamidah ga?", tanyaku pada Ririn.
 "Ga ada Man", jawabnya.
 "Oke, kalau begitu kita langsung dateng ke rumah Bu Hamidah ya aja Rin", tegasku.
****
Di rumah semi permanen dengan luas 2 x 3 m itu Ibu Hamidah tinggal bersama kedua orang putrinya. Suaminya sudah lama meninggal. Meski rumah yang ditempatinya itu sederhana, Ibu Hamidah dan kedua anaknya sangat mencintai rumahnya yang hanya berlantaikan tanah yang ia lapisi dengan karpet plastik itu. Rumah itu merupakan bantuan dari warga sekitar yang bergotong royong  mebuatkan rumah untuk mereka. Bagaimana tidak, dari penghasilannya sebagai buruh cuci ia hanya bisa mengantongi uang Rp. 350.000,-/bulan, jadi jangankan untuk mengontrak rumah, untuk keperluan sehari-hari saja ia kesulitan.
Dalam temaram ruangan, Yuni, anak Ibu Hamidah sedang asyik membantu ibunya melipat baju yang sudah disetrika diselingi obrolan hangat antara orang tua dan anak. Yuni tak pernah segan membantu ibunya yang rambutnya kini mulai dipenuhi uban. Kakanya Ratna, saat itu sedang tidak ada di rumah. Sampai di saat Yuni melipat baju sekolahnya yang sudah sedikit usang, ia memberanikan diri untuk mengungkapkan keinginannya yang terpendam.
"Mak, Yuni  pengen deh sekolah pake baju tangan panjang. Rok panjang juga mak. Yuni  pengen sekolah pake jilbab mak", pinta Yuni kepada Ibunya.
 "Iya Ni, Insya allah emak kalo ada duit ntar mak beliin ya, Ema belum ada duit", jawab Ibu Hamidah dengan penuh kasih sayang. 

Minggu, 12 Desember 2010

Bang Idin, Pendekar lingkungan Hidup

Bang Idin, Pendekar lingkungan Hidup
“Alam ini bukan warisan nenek moyang, tapi titipan anak cucu kita,“ demikianlah ungkapan yang melandasi munculnya kesadaran seorang laki-laki untuk memperbaiki alam. Laki-laki itu bernama H. Chaerudin. Tanpa kesadaran akan hal itulah, mungkin kondisi bantaran Kali Pesanggrahan, Karang Tengah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, takkan seperti sekarang. Bantaran kali yang dulu gersang dan banyak ditemukan tumpukan sampah rumah tangga, kini berubah menjadi lahan pertanian yang subur dipenuhi tanaman palawija, sayur-sayuran serta buah-buahan.
Semuanya berawal dari kenangan masa kecil laki-laki yang akrab disapa Bang Idin ini. Tokoh yang lahir pada 13 April 1956, ingat betapa mudahnya dulu memancing ikan di Kali Pesanggrahan. Kicauan burung begitu merdu menghiasi suasana di pinggir kali. Aneka satwa lain juga dapat dengan mudah ditemui. Tapi kondisi di akhir 1980-an sangatlah jauh berbeda. Sampah bertebaran sepanjang bantaran yang tandus atau di kali yang airnya kehitaman.