Senin, 02 Januari 2012

Surat Untuk Firman


"Surat Untuk Firman " adalah surat yang dikirimkan oleh E.S. Ito, seorang penulis buku, kepada kapten kesebelasan tim nasional, Firman Utina. Saat membacanya setahun yang lalu, saya sangat suka dengan isi surat ini. 

Surat Untuk Firman
Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka. Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?

Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan. Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita. Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi, karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka. Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian. Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip. Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera. Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.
 

Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu. Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket. Jutaan orang lantang bersuara demi sepakbola. Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas. Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran. Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada. Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata "bisa" belum punah dari kehidupan kita. Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik. Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah. Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar. Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.
 

Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia, bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi. Sepak bola tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu, sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan. Sepak bola tidak urusannya dengan harga diri bangsa, sebab harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan. Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri. Di pinggir lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa, kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan dagangan para pecundang. Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa. Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan. Tenanglah Markus, gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian lawan. Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.
 

Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola. Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara. Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan.

Minggu, 06 November 2011

Pihak Orang Tua Pipit"Spyderkids" Tidak Kooperatif


Pipit saat mengobrol dengan Dr. Susi didampingi oleh pihak dari
LSM Marcilea Foundation dan RPSA.
            Masyarakat sempat digemparkan dengan berita Pipit "spyderkids" seorang anak perempuan yang memanjat tower provider cellular di dekat Kepolisian Sektor (Polsek) Ciputat, Tangerang Selatan. Sejak kasus tersebut bergulir, Pipit akhirnya ditangani oleh pihak Rumah Sosial Penitipan Anak (RPSA) dan mendapat penangananan medis di Rumah Sakit Jiwa Soeharto Herdjan, Grogol, dan dinyatakan menderita penyakit yang disebut Contact Disorder. Ciri2 dari penyakit tersebut adalah pasien suka memanipulasi, emosi tidak stabil. Seperti yang dikutip dari pernyataan dokter yang menagani Pipit, Dr. Susi, Pipit berpotensi menjadi psikopat saat dia dewasa.
           
            "Pipit harus ditangani secara tuntas karena dia membahayakan dirinya maupun orang disekitarnya," tambahnya.
" Seperti yang dikutip dari pernyataan dokter yang menagani Pipit, Dr. Susi, Pipit berpotensi menjadi psikopat saat dia dewasa."
            Pipit yang seharusnya masih dalam penanganan medis pihak rumah sakit, sempat dibawa pulang oleh orang tuanya. Terkait proses pulang Pipit, menurut pengakuan dari berbagai pihak, orang tua Pipit memberikan keterangan yang berbeda.

Rabb..

Ya allah..mustahil aku dapat menebak kapan matiku..
Tapi terbayang kengerian dibenakku jika aku harus mati lalu kau ceburkan aku ke dalam nerakamu..
Aku tak pernah bercita2 menjadi jahat..lalu memberatkan timbangan amal burukku..
Tapi tak juga aku mengerti akan kebaikan yang diterima olehmu..
Karena yang jelas di mataku, jahat adalah jahat, sedangkan baik selalu relatif
ya allah..jika ada keinginan yang terungkap sebelum penciptaanku..
Aku tak pernah mau kau ciptakan..semulia-mulianya, sesempurna-sempurnanya manusia sebagai makhlukmu..jika sampai saat ini yang terbayang olehku hanya kengerian akan hukumanmu.
mungkin aku tak pandai bersyukur..atau memaknai penciptaanmu melalui manifestasi keimananku..
Tapi ya allah..seungguhku tak pernah berniat menjadi makhlukMu yang berdosa..
Tapi sungguh juga aku tak dapat meniadakan dosa dalam kehidupanku..
Ya Allah..karena kau ciptakan aku..
Aku melihat ibuku..ayahku..saudara2ku..orang2 yang ku kasihi..
Tentunya tak inginku terpisah dari mereka di akhirat nanti..
Tapi sungguh tak juga inginku bersama mereka dalam perih siksa neraka..
Sungguhku tak ingin begitu..
Yang ku inginkan syurga bersama mereka..
Dan tak pernah ku berpikir egois untuk berkhayal syurga sendirian sembari melihat mereka merintih kesakitan..tapi juga tak inginku mereka melihatku dalam siksa atas salahku saat mereka menikmati jamuan syurga..
Ilahi.. dalam bingung dan takut ini, bimbinglah aku Rabbiku…